Cari Blog Ini

Minggu, 07 November 2010

Benar atau Salah??


Gw lagi bingung...

Beberapa hari yang lalu gw, Dina, Satvika, dan yang jarang gw sebutkan di blog gw Tasya dan Ipeh, serta anak kelas 8 (dan kelas 7??) dipanggil oleh wakil ibu kepala sekolah yang meminta gw untuk menggambar dia tetapi gw belum ada waktu luang dan masih dalam keadaan malas sampai saat ini ke kantornya. Gw nebak bahwa kami akan melakukan lomba.

Eh, ternyata benar! Katanya kita akan melakukan lomba kording (koran dinding) di sebuah sekolah. Sepertinya karena melihat karya mading kita yang memperoleh juara satu dengan pengorbanan yang tidak begitu mempengaruhi batin gw.

Akan tetapi, ada sesuatu hal yang tidak beres.

Gw melihat keterangan lomba tersebut, dan keterangan tersebut mengatakan bahwa yang ikut harus kelas 7 dan 8, padahal kita anak kelas sembilan. Gw kemudian mengatakan kepada wakil kepala sekolah yang juga berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia bahwa kita terlalu tua untuk ikut lomba. Beliau (enakan pakai "dia", tetapi orang suka bilang g sopan... tuh kan? bahasa inggris lebih gampang?) bilang kalau kita berbohong saja.

Tetapi, gw bukan jenis orang yang sukan berbohong, jadi gw panik deh! Wakil kepala sekolah bilang bahwa ada anak SMA pun yang masuk ke dalam lomba anak SMP. Setelah itu salah satu dari teman gw bilang ntar kalau yang bohong bukan gw, tetapi orang lain, jadi secara teknis gw nggak berbohong. Kemudianlah gw sudah merasa tidak apa-apa. Kita dijelasin sampai-sampai kita melewatkan salat Zuhur (ah, tapi kan bukan karena kelalaian kan? Iya, 'kan?)

Sehari kemudian, Dina sudah merasa semangat untuk mengatur kording tersebut yang temanya baru akan muncul pada hari-hnya. Dia menebak (atau "menaksir" yang suka disebut oleh Andrea Hirata) bahwa temanya mengenai Nasionalisme, Idul Adha dan ya... pastilah tau sendiri. Kemudian Dina memutuskan bagian pekerjaan kita. Gw menjadi penggambar karikatur (apalagi jika gw suka dengan genre black comedy) dan pengatur tempat artikel-artikel. Tetapi katanya mengenai hal itu saat waktu lomba saja.

Esok harinya setelah hari yang gw sebut "sehari kemudian" di post ini, Dina kelihatan muram sambil mengatakan kalo lombanya g jadi. G jadi? Kenapa? Dina bilang "Tanya aja ama Tasya?" karena dia yang mengatakannya (kata dia). Kemudian gw bertanya kepada Tasya, tetapi dia menjawab "Nggak tau." Bingung deh gw. Saat pelajaran berlangsung, Dina nggak bolehin gw ngomong ama dia. Terus dia ngomongin tentang gw dan wakil kepala sekolah dan lomba kording tersebut.

"Gw g sebel ama lu atau wakil kepala sekolah", kata Dina jika ditaruh kedalam post ini "Kan bagus kan kita g jadi bohong? Bohong 'kan dosa! Ah udahlah lupakan saja masalah ini!" Kemudian setelah beberapa saat yang diam, dia ngomong lagi "Padahal gw udah susah-susah cariin artikel, udah memilih temanya... Kamu tau 'kan orang yang dicalonkan tapi g jadi. Gw merasakan hal itu."

Ya, diperkirakan Dina seperti itu. Gw bertanya "Jadi lomba kordingnya g jadi karena
gw?" Ia menjawab "Tanya aja sama Wakil Kepala Sekolah".

Pada saat istirahat, gw ditemani oleh Satvika (karena gw ingin memperdengarkan alasan tersebut kepada Satvika juga dan sekalian Satvika ada urusan ringan dengan Tata Usaha) untuk bertanya kepada beliau yang kebetulan sedang menduduki jabatan guru Piket hari Kamis.

Gw nanya "Lombanya g jadi ya?".
Beliau menjawab "G jadi, nak."
"Kenapa?"
"Habis Ibu terunggah(?) oleh ucapan Lala, 'Tapi itu bohong!'. Kemudian Ibu berpikir bahwa bohong tidak membawa berkah, kemudian dibatalkan saja. Maaf ya, jangan kesal."
"Tapi ada temanku ada yang masih kesal, Bu."
"Kalau begitu itu urusan Allah aja."

Kalau diperkirakan seperti itu. Tapi yang dipetik adalah unsurnya, bukan kata-kata persisnya. Emangnya menghafal lirik lagu yang telah menjadi salah satu kelemahan gw? -_-"

Gw nanya ke Satvika apakah ia setuju mengenai batalnya lomba tersebut. Katanya setuju karena nggak pantes anak kelas 9 ikut lomba anak kelak 7 dan 8. Terus malam sebelumnya, gw juga berpikir jika lomba-lomba kording (seperti se-DKI atau se-Indonesia) waktunya bertepatan dengan waktu Ujian Nasional atau tidak. Setibanya di rumah gw mengumumkan batalnya lomba ke Ibu, terus Ibu mengatakan "Bagus kalau begitu!"

Tapi gw merasa bersalah kalau gw membuat Dina bertingkah laku seperti itu. Tapi gw merasa benar juga, bukankan berbohong itu buruk, ya? Gw seakan seperti menentang Robin Hood yang suka melakukan kebohongan demi kebaikan.

Musik yang menggambarkan suasana ini (sepertinya. maaf kalau nggak cocok).



----

Maaf ya, guru bahasa Indonesia yang sedang membaca post ini. Saya belum selesai mengerjakan resensi buku Padang Bulan. Saya ngumpulinnya hari Selasa aja, ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar